Sewaktu saya masih duduk dikelas 1 SD, saya sedikit di buat bingung oleh orangtua saya yang tiba-tiba sibuk dengan urusan taksi, rumah sakit, uang, dan lain lain sebagainya. Ketika itu saya terbangun dari tidur lelap dan melihat sekeliling saya. Orangtua saya kalut di baluti dengan rasa cemas yang tampak dari wajah mereka. Saya bingung, tapi saya tak mengerti harus melakukan apa. Yang saya tahu, saudara kandung yang berbeda 2 tahun umurnya di atas saya mimisan, lalu kedua orangtua saya berniat membawanya kerumah sakit. Terlintas dibenak saya yang masih kecil, “mengapa harus dibawa kerumah sakit? Aku saja tinggal di kasih sirih, mimisan juga nanti berenti sendiri.”

Saya hanya ditemani oleh dua orang abang yang setia menjaga saya. Sedangkan kedua orangtua saya menemani kakak saya kerumah sakit Cipto Mangunkusumo. Keesokan harinya terdengar kabar bahwa kakak saya di rawat dirumah sakit.

Sepenggal kisah yang saya toreh diatas adalah sedikit dari cerita sedih yang terkenang dan tak pernah terlupakan di pikiran saya saat ini. Proses pendewasaan diri seorang anak yang dipaksa untuk mengerti setiap keadaan buruk yang terjadi di sekelilingnya. Saya merasa sendiri. Semua orang sibuk dengan urusannya masing masing. Saya seakan terlupakan. Tak ada yang perduli. Bahkan ketika kami menjemput saudara saya untuk kembali kerumah, mereka ( orangtua saya ) membelikan dompet cantik kepada saudara saya. Saya ingin memilikinya juga, tetapi sekali lagi dompet cantik itu hanya untuk saudara saya. Mereka membelikan berbagai mainan untuk dirinya. Sedangkan saya hanya melihat dan berharap bahwa saya akan dibelikan juga seperti saudara saya.

Ketika itu hari telah sore saat saya pulang dari sekolah. Saya duduk termenung merasa iri atas semua barang yang dimiliki oleh saudara saya. Tapi satu kata iri pun atau kata meminta memilikinya juga tak pernah saya lontarkan dari bibir saya. Tiba tiba mama saya datang menghampiri saya, sambil berkata, “sabar ya nak, kakak lagi sakit. Doain supaya kakak cepet sembuh ya nak!”

“kakak kenapa sih mah? kok masuk rumah sakit terus?” sahut diriku yang masih kecil.

“iya, minta sama Tuhan, biar kakak dikasih kesembuhan, biar sehat semuanya. Ga ada yang sakit lagi,” kata mamaku yang tak terasa membuat air mata saya berlinang. Mama saya mengelap air mata saya dan memeluk saya erat. Mulai saat itu, saya selalu tersenyum dan tak pernah mencoba mengeluh bahkan dalam hati atau iri untuk melihat segala perhatian yang dicurahkan orang orang sekitar saya terhadap kakak saya. Mendengar cerita mama saya kepada orang lain bahwa pernah suatu kali mama mencoba memeras kain yang digunakan untuk menseka darah yang keluar dari hidung kaka saya, dan itu membuat satu wadah terisi dengan darah membuat saya bergidik. Sebegitu parahnya kah penyakit kakak saya.

Gejala yang ditimbulkan oleh dirinya tak jauh beda dengan DBD. Terdapat bintik bintik merah di permukaan kulit, sering mimisan, dan apabila dirinya sedikit saja terantuk benda keras akan menimbulkan memar memar yang cukup lama hilangnya. Yaaa.. semua berfikir bahwa saudara saya menderita DBD. Tetapi jauuuh setelah sekian tahun berlalu, baru lah saya tahu bahwa saudara saya menderita penyakit yang disebut dengan ITP atau kepanjangan dari Idiopathic Thrombocytopenia Purpura. Saya tahu ketika saya duduk di bangku SMP dan saudara saya telah duduk dibangku SMA kelas 3. Dia sendiri yang memberi tahu saya nama penyakit yang dideritanya. Ia sedang browsing dan menunjukan informasi mengenai penyakit ITP tersebut kepada saya.

gejala memar ITP

gejala mimisan ITP

Secara harfiah ITP dapat diartikan : Idiophatic artinya tidak diketahui dengan jelas penyebabnya, Thrombocytopenic berarti darah yang tidak memiliki cukup trombosit, dan Purpura berarti seseorang yang memiliki luka memar yang berlebihan. ITP disebabkan oleh adanya autoantibodi IgG pada permukaan trombosit. Antibodi-antibodi ini menyelimuti trombosit sehingga menyebabkan masa hidup trombosit lebih singkat di dalam sirkulasi darah. Tak heran jika saya sering mendengar orang orang berkata bahwa saudara saya kekurangan trombosit. Karena kurangnya trombosit inilah yang membuat saudara saya mudah sekali memar, dan timbul bintik bintik merah menyerupai penderita DBD pada umumnya. Apabila jumlah trombosit sangat rendah, hal itu yang menyebabkan keluarnya darah dari hidung atau yang kita kenal dengan sebutan mimisan.

Dalam hal ini limpa memiliki peran besar sebab limpa sendiri lah yang menghasilkan autoantibodi yang dimaksudkan di atas (di pulpa putih limpa). Dan di limpa juga tempat fagositosis trombosit yang telah terselimuti-autoantibodi (di pulpa merah limpa).
Ini sebabnya mengapa terjadi trombositopenia pada ITP padahal keadaan sumsum tulang normal. Trombositopenia pada ITP terjadi diakibatkan proses imun bukan karena adanya gangguan pada sumsum tulang (seperti anemia aplastik).

Komplikasi yang disebabkan oleh penyakit ini adalah sebagai berikut :

  • Perdarahan intrakranial (pada kepala). Ini penyebab utama kematian penderita ITP. *untung tidak terjadi terhadap saudara saya*
  • Kehilangan darah yang luar biasa
  • Efek samping dari kortikosteroid
  • infeksi pneumococcal. Infeksi ini biasanya didapat setelah pasien mendapat terapi splenektomi. Si penderita juga umumnya akan mengalami demam sekitar 38.80C.

Klasifikasi terhadap ITP adalah :

1. ITP Akut
ITP akut lebih sering diderita oleh anak-anak dibandingkan orang dewasa. Onset penyakit biasanya mendadak. Pada anak-anak penderita ITP juga ditemukan eksantem dan penyakit saluran nafas oleh virus yang mengawali terjadinya perdarahan berulang. Selain itu ITP akut biasanya bersifat self limiting (Purwanto, 2009).
2. ITP Kronis
Pada ITP kronis yang biasanya diderita oleh orang dewasa memiliki onset penyakit yang tidak menentu dengan riwayat perdarahan mulai dari ringan hingga berat. Infeksi dan perbesaran lien jarang terjadi. Perjalanan klinis pada ITP kronis bersifat fluktuatif (Purwanto, 2009). ITP kronis lebih sering terjadi dengan insidensi tertinggi pada wanita dengan usia antara 15-50 tahun (Hoffbrand, 2005).

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari kambuhnya penyakit ini adalah dengan menghindarkan penderita dari berbagai kegiatan yang membuatnya terantuk atau kegiatan kegiatan keras yang beresiko terjadinya perdarahan.

ITP yang di derita saudara saya adalah ITP kronis. Sejak ia duduk di kelas 6 SD, intensitas kambuhnya penyakit menjadi sedikit berkurang. Sampai saat ini pun saudara saya terkadang masih suka memar apabila terantuk. Namun tak parah sampai harus dibawa kerumah sakit seperti saat masih kecil. Saudara saya sekarang berumur 21 tahun. Terakhir kali ia menginap di rumah sakit adalah saat duduk dibangku SD.

saudara saya (kiri) & saya

Semoga itu yang terakhir dan tak pernah ada lagi saudara saya yang terbaring dirumah sakit karena menderita penyakit Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP)..

About DianTobing

Just a simple person

2 responses »

  1. Karunia Mulia Group says:

    assalamualaikum Selamat malam
    menginspirasi sekali, semoga bemmanfaat untuk pembaca yang lain.

    http://grosirsandalsehat.wordpress.com

    terima kasih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s