BULE…

Pikiran anda pasti menggambarkan seseorang yang putih, tinggi, berhidung mancung dan memiliki mata biru. Seperti judul posting diatas. Anda salah besar! Bule yang saya maksud disini adalah panggilan seorang anak berumur 7 tahun yang mengalami gangguan pendengaran.

Namanya Alfian. Namun sejak kecil ia di kenal dengan sebutan bule, karena memang kulitnya yang putih bersih dan menggambarkan seperti wajah wajah anak bule pada umumnya. Kenapa saya tertarik untuk membahas seorang Alfian atau selanjutnya akan saya sebut dengan bule adalah anak luar biasa ini membuat saya tersenyum.

Saya tinggal disebuah rumah yang ditempati oleh Ibu Allen yang sering saya sapa dengan sebutan i’i, seorang nenek nenek yang saya sapa dengan sebutan Ibu Hendrik, dan anaknya yang tidak menikah saya sapa dengan sebutan Oom Cien. Mereka adalah pemilik rumah dari sebuah kamar yang saya sewa selama saya bekerja di PT. Plusindo Utama Mandiri. Awal mula saya mengenal bule adalah ketika saya tengah berbicara dengan sahabat saya Rantopa Boi Gohi Simamora melalui telepon, dan pembicaraan kami terputus ketika seorang anak tiba tiba membuka pintu kamar saya secara tiba tiba. Saya terkejut, karena anak yang berperawakan besar, putih dan dengan senyum manis di wajahnya tidak berbicara dengan jelas.

Ia tersenyum kepada saya, dan saya menghentikan pembicaraan saya dengan Rantopa yang tengah membahas mengenai lapangan pekerjaan. Saya keluar kamar dan terheran heran melihat keterbatasan anak ini dalam berbicara. Singkat cerita ia meminjam telepon selular saya dan ia menggunakannya untuk mengambil gambar beberapa orang disekitarnya termasuk saya. Sedikit rasa khawatir menghantui saya, takut takut bahwa ia akan menjatuhkan telepon selular yang saya miliki. Tapi ternyata tidak. Kami berfoto bersama, bermain, dan bercanda. Namun waktu juga yang memisahkan kami. Ia kembali kerumahnya dengan di antar oleh seorang ibu paruh baya berumur sekitar 30an.

Saya tersenyum kagum akan ketabahan yang dimiliki oleh orangtua dari bule ketika mendengar penuturan I’i mengenai cucu nya tersebut. Bule merupakan cucu dari i’i. Bukan cucu kandung tapi merupakan anak dari keponakannya. IBu dari mamanya Bule adalah kakak dari I’i.

Selanjutnya, cerita yang saya tangkap dari I’i adalah bahwa Bule lahir pada usia belum genap 9 bulan atau yang sering kita sebut dengan prematur. Prematur bukan merupakan hal lazim, begitu juga bule. Ia lahir pada saat usia kandungan ibunya masih 6 bulan. Dengan tubuh yang mungil Bule melihat dunia di bawah proses kelahiran Scaesar. Karena tubuhnya yang masih lemah tersebut, Bule di taruh didalam inkubator selama beberapa bulan. Dokter menjelaskan bahwa apabila bule tertidur dalam keadaan terlentang dan melihat cahaya lampu selama terus menerus di dalam inkubator, akan membuat dirinya mengalami kebutaan. Untuk menghadapi keadaan tersebut, pihak keluarga memilih untuk mengesampingkan tubuh bule agar matanya tidak beresiko mengalami kebutaan. Beberapa bulan berlalu saat bule mulai menginjak usia hampir 12 bulan, kebutaan tidak dialami bule. Kesan yang ditunjukan bule ternyata ia mampu melihat benda benda yang di tunjukkan kepadanya. Hal tersebut membuat keluarga bahagia.

Namun, kebahagian itu hanya sebentar. Saat bule menginjak usia balita, dimana setiap anak mampu dan mengerti apa yang di perintahkan orang orang disekitarnya, bule ternyata menunjukkan hal yang berbeda. Ia tak mampu menangkap apapun yang di perintahkan keluarga termasuk ibunya sendiri. Keluarga merasa ada yang salah dengan bule. Dan ketika di periksa ke dokter, barulah mereka sadari, bahwa keputusan untuk mengesampingkan tubuh bule saat di inkubator memang menghilangkan resiko kebutaan, namun menimbulkan resiko lain yaitu membuat telinganya tidak berfungsi. Perasaan kecewa sungguh meliputi keluarga ditambah dengan sejumlah biaya yang harus mereka keluarkan untuk mengobati sakit nya bule. Akibat keterbatasannya dalam mendengar suara, berpengaruh pula dalam cara bicaranya. Bule tak mampu berbicara dengan jelas. Tapi satu hal yang salutkan adalah mereka semua masih mau merawat bule dengan penuh kasih sayang.

Bule saat ini duduk di bangku sekolah dasar luar biasa kelas 3. Sungguh menyenangkan apabila bermain bersama bule. Tuhan sungguh luar biasa menciptakan anak yang satu ini. Dalam berbagai kebatasannya,  ia mampu membuat semua orang tersenyum karena senyum tak pernah pudar dari wajahnya. Saya hanya mampu berharap, semoga Tuhan selalu melindungi bule. Di dalam kekurangannya tersebut, saya yakin, Tuhan memberikan sejumlah talenta yang belum ditemukan bule maupun keluarga. Bule yang lucu, tetaplah menjadi senyum bagi keluargamu🙂 dan tetaplah tersenyum kepadaku🙂🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s