Etika Bisnis

Lagi mau cuap cuap sedikit berkenaan dengan permasalahan yang ada dikantorku nih😀

Kalau di pikir-pikir, ini berkaitan dengan management resiko yang dipelajari anak manajemen di bangku kuliah. Sebenarnya aku tidak ingin terlibat lebih dalam jika membicarakan masalah ini. Tapi terkadang suka tergoda juga untuk memberikan komentar.

Semua perbincangan berawal dari manager marketing yang sudah resign dari kantor, namun tetap memiliki hubungan baik dengan boss dimana tempat ku bekerja. Bukankah bagus? Menurut kalian pasti seperti itu. Tapi tidak dengan menurut teman-temanku. Mantan manager marketingku memiliki pengetahuan yang oke berkenaan dengan lampu dan dunia berhubungan dengan lampu. Hal ini yang membuat boss ku berat untuk mengizinkan beliau untuk resign (doi mau nerusin bisnis keluarga katanya). Akan tetapi kenyataan justru berbicara terbalik. Sang mantan manager seolah olah masih bekerja di kantorku. Dia seenaknya saja (kata teman2ku) menyuruh manager yang baru untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan (bodohnya manager yang baru mau aja diatur2 (ini kata teman2 ku jg)). Entah karena perasaan yang tidak enak karena Mr. D (Sebut saja namanya Mr. D untuk manager lama) yang merekomendasikan Mr. A (manager baru) atau entah karena alasan lain, Mr. A mau saja disuruh suruh oleh Mr. D.

Tidak sulit sebenernya memperoleh customer di perusahaan tempat ku bekerja. Sudah banyak kontraktor kontraktor yang memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan perusahaan. Namun disayangkan, Mr. D lebih memilih langsung ke owner yang sudah memiliki hubungan dengan kontraktor2. Yang membuat gerah sebagian atau mungkin seluruh karyawan (aku sih tidak terlalu) perusahaan tempat ku bekerja adalah mengapa langsung ke owner? Mengapa tidak melalui kontraktor saja?

Akar masalah nya sih dari situ, terlebih salah satu kontraktor yang merupakan customers terbesar pernah mengetahui bahwa perusahaanku ternyata menyabet lahan proyek yang semestinya dikerjakan oleh kontraktor tersebut. Agak membuat was-was bagian accounting termasuk diriku, karena 85% penjualan yang bernilai milyaran merupakan order dari PT. T (sebut saja begitu).

Hampir saja perusahaan ku terblack list karena hal ini. Puji Tuhan Ibu Elysa yang pintar, mampu mengembalikan kepercayaan PT. T walaupun beliau berkata, mereka (Ibu Elysa, Mr. D dan Mr. A ) sempat seperti terdakwa ketika PT. T meminta konfirmasi atas perebutan proyek yang dilakukan oleh perusahaanku.

Nah ini dia yang menjadi akar masalahnya. Sudah pernah sekali ketahuan langsung menjual barang ke owner tanpa melalui kontraktor, lagi-lagi perusahaan ku yang diwakili Mr. D (padahal doi ngakunya udah resign) masih bawa bendera multi untuk menjual ke proyek yang sudah di handle oleh PT. T..

Menurut mr. D, kontraktor terlalu lelet merespon permintaan owner, karena tidak ingin kehilangan proyek, maka beliau langsung menuju owner saja. Padahal… tentu saja hal tersebut seharusnya dihindari. Kalau bukan customernya customers sih its okay :p

Dimana Etika Bisnisnya??? *seru teman-temanku*

Hehehe…

Terlepas dari masalah itu, aku tidak mau ikut ambil pusing ah.. Boss ku seharusnya mengerti mana yang baik untuk bisnis kedepannya, mana yang tidak. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s