Ketika Cinta itu Setia

KETIKA CINTA ITU SETIA…
Dengan malas aku meraih weker yang terletak diatas meja tempat tidurku. Ku tekan tombol snooze dan berniat untuk kembali tidur. Mata ku mungkin saja tertutup, tapi kenyenyakan tidak dapat lagi aku dapatkan. Hal itu terjadi mengingat sms ku kepada Radit belum juga dibalas.
Kuraih telepon selular ku dari atas meja dan membuka menu inbox message. Terakhir Radit mengirimi ku sms adalah 3 hari yang lalu. Sulit sekali menghubungi kekasih ku yang telah 11 bulan terakhir menemani hari hari ku ini. Terkadang inign aku marah padanya, mencaci dirinya atas sikap yang selalu mengacuhkan diriku.
Aku tak kuasa, aku menyayangi Radit setulus hatiku. Memang aku merasa bersalah atas sikapku yang terkadang masih saja meladeni beberapa teman pria dan mantan kekasihku dulu. Semua itu kulakukan karena aku tak pernah mendapat perhatian darinya. Aku butuh Radit yang bisa menjagaku, aku butuh Radit yang bisa membuatku tertawa di saat saat tersulitku, dan aku butuh Radit yang selalu berkata ‘kangen kamu’ ketika aku berada jauh darinya.
Sikap manis yang dulu selalu ia tunjukan lambat laun berubah. Berubah seiring jalannya waktu. Aku lelah, aku iri dengan beberapa pasangan yang selalu memamerkan kemesraan mereka dihadapanku. Aku iri dan ingin seperti mereka, tatapi bahkan kekasihku sendiri sulit sekali untuk bisa kau hubungi.
Tak tahukah Radit, setiap kali Handphone ku berbunyi menandakan adanya panggilan atau sms aku selalu berharap bahwa itu dari dirinya? Tidak tahukah Radit setiap kemesraan yang dipamerkan beberapa temanku dengan kekasih mereka aku selalu membayangkan bahwa mereka adalah aku dan dirinya?
Radit tak tahu atau tak mau tahu? Aku pun tak mengerti…
Sudah habis kesabaranku dalam menghadapinya. Besok lusa malam minggu adalah malam dimana biasa datang untuk mengunjungiku. Aku berniat membahas hubungan kami yang tak jelas kemana arahnya. Aku tak tahu harus mengambil keputusan apa, membayangkan berpisah dengan Radit saja aku tak mampu…
Tiba – tiba bunyi pesan masuk dari handphone ku berbunyi dan membuyarkan lamunanku akan Radit.

‘1 new message from Radit’
Aku tersenyum, segera kubuka msg dari kekasih ku itu.
“ndut, maaf hpku masih rusak. Oia besok sabtu aku ga tau bisa kerumah kamu atau nggak”
Kontan senyumku berubah menjadi helaan nafas.
‘Radiiiiiit,’ kataku lemaah.
Beberapa menit kemudian jemariku menari diatas kepad HP. Aku membalas:
“iya gpp. Kok ga bisa? Emang kamu mau kemana?”
Selang 8 menit kemudian HP ku kembali berbunyi. Aku yang tengah berada di toilet segera berlari meraih HP ku.
‘1 new message from Ony’
Hmm.. ku piker Radit yang membalas SMS ku, ternyata Ony. Sahabatku dari SMP.
“Araaaa…!! Malem minggu temenin gue ke grameed yah. Gue mau nyari buku karangan Dian Tobing yang terbaru nih. Ok! Thankyouu dear. Muach”
Segera aku membalas :
“gue ga tau On, soalnya Radit mau kerumah, Entar gue kabarin deh”
Tak sampai satu menit Ony membalas
“SIIPPPP”
Hari Sabtu pun tiba, Radit tak member kabar apapun. Akhirnya aku menerima ajakan Ony untuk menemaninya ke salah satu toko buku terbesar yang berada di kota Depok. Seusai mencari buku, Kami memutuskan untuk menikmati es buah yang terletak persis di dapan toko buku tersebut.
Menyadari wajahku yang agak kurang bersemangat, Ony membuka pembicaraan
“Lo kenapa sih?” Tanya nya.
Aku sama sekali enggan membahas hal ini bersama Ony, berkali kali ia menyuruhku memutuskan hubungan dengan Radit.
“Hmm.. Radit lagi?” Tebak Ony.
“Gue ga ngerti On, akhir akhir ini dia susah banget gue hubungin,” jawabku.
“Lo udah pernah ngebahas hubungan lo ke dia?” Tanya Ony lagi
“Dulu sih pernah sekali,” sahutku.
“trus ada perubahan?”
“iya ada, tajpi Cuma bertahan 3 hari, setelah itu dia cuek lagi,” kataku lemas.
“Hmm,, bebh, gue punya temen namanya Donald, Dia curhat ke gue, dan berniat mutusin cewenya. Caranya ya dengan jarang ngasih kabar kaya yang dilakuin Radit ke elo sekarang ini”
“Jadi maksud lo Radit mau mutusin gue? Jangan asal sembarangan ngomong lo! Ga elo, ga Christy dan Ga Eva .. Semuanya Kompor. Basi tau gak!” sergahku sambil beranjak berdiri.
Beberapa orang memperhatikan kami.
“Lho, lo kok ngomongnya gitu sih?” sahut Ony.
Aku tak perduli, kutinggalkan Ony seorang diri. Aku berlari kea rah basement tempat aku memarkir motorku. Ku gas kendaraan ku dalam keadaan galau. Aku sendiri bahkan tak tahu apakah Ony membawa kendaraan atau tidak. Ony yang malang..
Rumahku terletak tak jauh dari toko buku dimana aku dan Ony berbelanja. Hanya memakan waktu 15 menit karena memang jarak antara rumah dengan toko buku kurang dari 1 km. Ketika hendak memakirkan motor, terlihat dimataku motor milik Radit yang telah lebih dahulu diparkir di depan gerbang rumahku. Aku tersenyum dan sedikit merasa bersalah karena HP ku ku tinggal karena amarahku padanya yang lagi lagi tak memberikan kabar.
“kamu darimana?” sambutnya dengan sinis.
“Aku tadi nemenin Ony nyari buku di gramed, Kamu sendiri ga kasih kabar ke aku, kalo mau dating,” jawabku sambil meletakkan helm.
Radit duduk bersebrangan dengan ku, Yoyo adikku yang mengetahui kedatanganku pergi meninggalkan kami berdua.
“Kamu kan tau, biasanya aku dating, kalo mau pergi kabarin aku dulu dong!” bentak Radit
“Ya tapi kan, Hp…” belum sempat aku bicara, Radit telah memotongnya.
“Mau kamu apa sih? Aku sekali ga ngerti sama kamu!”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu Tanya mau aku apa? Kamu liat aku! Aku punya kamu tapi kaya ga punya siapa siapa. Aku khawatirin kamu ,Tapi sekali sms akupun kayanya berat buat kamu. Aku sayang kamu Radit. Tahu kondisi kamu aja itu udah cukup buat aku. Kamu emang ga pernah ngerti aku! Ga pernah!!” seru ku sambil menahan air mata yang tak terbendung lagi.
Radit terdiam. Aku yang sedari tadi menatapnya tajam tak berani menatapnya lagi. Aku tahu sepertinya hubungan ini akan berakhir. Berakhir begitu saja.
“Ya udah, kita sampe disini aja ya. Aku tau kamu iri sama teman teman kamu. Kamu iri sama Dhea yang sering bercanda sama Ichal, kamu iri sama Christy yang ga intens berhubungan sama Evan. Ga kaya kita,”
Air mataku semakin tak terbendung, Aku hanya menatap jam dingding yang telah menunjukan pukul 9 malam. Kami lama terdiam.
“jangan kaya anak kecil, sedikit sedikit putus. Kita bukan pacaran kaya anak sekolah lagi dit.” Kataku lirih tanpa memandang Radit.
Lama kami terdiam. Aku masih saja terus menangis. Aku tak tahu harus berkata apa.
Tanpa kusadari, Radit menghampiri diriku, ia mendapati tanganku dan memegannya erat. Aku masih sama sekali enggan menatap matanya.
“Maafin aku yaa, aku tarik omongan ku. kamu jangan nangis, Aku janji aku akan mencoba untuk berubah,” katanya sambil mengusap air mataku. Perlahan bibir kami bersentuhan dan ia memeluk diriku.
Aku menangis tapi kali ini menangis bahagia.

Semenjak saat itu, Radit sedikit berubah. Walau masih sering ia tak membalas SMS ku, setidaknya ia mengabari ku tentang keadaanya. Aku memberitahu perubahan tersebut kepada sahabat sahabatku. Dan mereka turut bahagia jika aku bahagia. Aku tahu mereka tak setuju atas hubungan ku dengan Radit. Terlebih Christy dan Ony. Mereka telah gagal dalam hubungan beda iman. Tapi aku mau percaya, bahwa setiap orang yang hadir didalam kehidupanku bukanlah suatu kebetulan, tetapi atas ijin yang Kuasa. Kalau saat ini aku bersama Radit, itu juga bukan kebetulan menurutku. Tuhan telah mengaturnya.

Desas desus tentang hubungan Radit dengan mantan adik kelasnya membuat kuping ku panas. Tentu saja aku tak mau membiarkan hal itu merusak acara perayaan Tahun Baru bersama Radit. Aku langsung menanyakan kepada dirinya perihal hal tersebut. Radit meyakinkan ku bahwa aku tak perlu khawatir. Ia sayang padaku dan berjanji tidak akan pernah selingkuh.
Saat malam tahun baru tiba, aku merayakannya bersama Radit dan beberapa teman. Namun malang, ketika kami hendak menerobos lampu merah, seorang polisi menghadang kami. Setelah lama bernegosiasi akhirnya aku dan Radit terbebas dari tilangan pak Polisi. Sayangnya kami terpisah dari rombongan teman teman.
Kami memutuskan untuk makan malam bersama, di sepanjang perjalanan dengan menggunakan motor, hal biasa yang kulakukan adalah menaruh tanganku ke dalam kantong jaket milik Radit. Tiba tiba HP milik Radit bergetar.
“sayang, ada SMS nih,” kataku.
“paling dari anak-anak, kita kan misah. Kamu bales aja.” sahut Radit.
“balesnya pake hape aku aja deh,” kataku. Tapi sulit sekali meraih hape ku yang ada didalam tas. Akhirnya aku menggunakan HP Radit. Benar saja, SMS tersebut dari Panji. Ia menanyakan keberadaan kami. Segera aku membalas SMS tersebut dan mengatakan bahwa kami berniat untuk pulang saja.
Kembali aku memasukan HP Radit kedalam Jaket, namun entah mengapa aku ingin sekali melihat inbox milik kekasihku ini. Akhirnya ku lihat, message dari Panji, Panji, Panji, Agnez, Rico, Aku, Tia, Tia, Aku, Agnez, Agnez, Panji, Agnez, Aku, Agnez, Agnez. Dan semakin aku memainkan keypad ke bawah, selalu Agnez yang mengirimi Radit message.
Aku penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan, oh Tuhaan, Radit sayang sayangan dengan Agnez. Dadaku terasa sesak. Sulit sekali rasanya bernafas.
“Radiiit!! Turunin gue sekarang!” teriakku.
“Kamu kenapas sih?” kata Radit sambil sedikit menengok.
“Apa nih, lo SMSan sama Agnez. lo bilang lo ga berhubungan sama dia. Lo bohong sama gue!! Turunin gue sekarang!!” teriakku sambil menangis..
“apaan sih kamu! Ini tuh lagi dijalan..!” seru Radit.
Radit semakin menggas motornya, dan aku sama sekali tak mau berbicara apapun. Sampai kami tiba di halaman rumahku.
“Maksud lo apaan sih!”
“itu tuh Cuma temen.” Sahut Radit sambil memarkir motornya.
“temen apaa sms pake sayang sayangan gini! Lo aja sms gue jarang. Lo liat handphone gue, ada ga dari cowo lain. Ga adaaa! Lo brengsek tau ga! Gue Cuma nunggu kabar lo aja susaah, lo dengan mudahnya balesin sms nih cewe. JAHAAT tau ga lo!” seru ku sambil membanting HP ku. Hp ku jatuh tak beraturan. Baterai bahkan simcard ku keluar dari tempatnya. Radit mengambil HPku.
“kamu parah banget sih, semarah marahnya aku gapernah ya aku ngomong gue elo.” Seru Radit
AKu masuk kedalam rumah. Ia duduk bersebrangan dengan diriku. Aku terus saja menangis.
Diam. Ya, aku hanya diam sambil mencoba membendung air mataku. Aku mencoba untuk tidak menangis tapi ternyata tak bisa. Air mataku terus mengalir.
“sekarang maunya gimana? Mau kita putus aja?” Tanya Radit.
Diam. Sekali lagi aku diam, tak mampu harus berkata apa.
“yaudah,” itu kata yang keluar dari mulutku.
“yaudah apa?” Tanya nya lagi.
“yaudah kita putus, maafin aku kalo selama ini aku ngerepotin kamu. Aku minta dianter jemput kamu. Aku selalu minta dikabarin keadaan kamu. Aku selalu pengen kamu ada setiap aku butuh. Makasih udah nemenin aku selama ini. Aku juga mau bilang makasih sama Dhea karena udah ngenalin kamu ke aku. Makasih udah sabar ngehadapin aku, besok kamu boleh ambil barang barang kamu yang ada di aku” kataku dengan emosi yang sudah tenang.
Aku mencoba menatap mata Radit, tak kusangka Radit meneteskan air mata. Ia menundukan wajahnya.
“maafin aku. Aku ga sanggup kalo harus pisah sama kamu.”
“ya terus mau kamu apa? Kamu sendiri yang tadi bilang mau putus.” Kataku.
“kasih waktu aku untuk instropeksi diri. Sebulan ini please kita ga berhubungan dulu. Biar aku betulin semua kesalahan kesalahan aku. Kasih aku kesempatan.”
“terus kalau udah sebulan gimana?”
“aku juga ga tau keputusannya nanti apa.”
Aku kembali menghela nafas, aku member kesempatan kepada Radit untuk mengintrospeksi diri dan membiarkan hubungan kami menggantung.

Aku menceritakan hal tersebut kepada teman teman dekatku.
“PUTUSIN AJA SEKARANG! Iya kalo dia berenti smsan sama si Agnes. Kalo enggak? Sama aja lo buang2 waktu buat mikirin cowo brengsek itu. NGapain sih lo dib ego begoin sama dia.!” Kata lani padaku.
Belum lagi komentar dari Ony :
“kalo break gitu biasanya ujung ujungnya putus.”
Komentar Christy
“nunggu apa lagi sih. Sekarang lo jg ga tau kan dia berenti smsan sam si Agnez atau nggak. Lo liat aja tuh FB mereka, udah mulai like like an status. Apaan coba!!”
Benar saja, ketika aku membuka akun FB Radit, Agnez selalu memberi tanda like untuk setiap status Radit.
Aku bertambah panas saja. Kupikir Radit tidak menghubungiku dan berhenti berhubungan dengan Agnez.
Aku mengiriminya msg :
“ kamu ngapain masih hubungan sama Agnez”
RAdit :
“kamu cemburunya keterlaluan deh. Hubungan apaan sih”
Aku tak membalasnya, Aku turut berkomentar pada salah satu status Radit yang di like oleh Agnez.
Aku komentar “I love you”
Tiba tiba Radit mengirimiku SMS,
“kamu di diemin makin jadi ya. Ngapain kamu komen kaya gitu di FB aku.”
Aku balas:
“lho kenapa? Aku kan emang sayang sama kamu. Maafin aku ya sayang, aku janji ga akan kaya gitu lagi”
Radit:
“udah telat, Aku udah cape sama kamu. Kita sampe disini aja ya. Maafin aku kalo udah kecewain kamu”
Aku tersentak. AKu tak percaya Radit memutuskan ku hanya karena komentar ku tadi. Segera kulihat status FB Radit. Dan ternyata Komentar ku telah di remove olehnya. Ya Tuhaan, Radit tega sekali..
Aku tak kuasa menahan air mata ini, aku lemah terhadap Radit, segera aku membalasnya.
“yaudah kalo itu mau kamu, maafin aku selama ini kalo ga bisa ngertiin kamu”
Semenjak itu Radit tak pernah mengirimi ku SMS. Bahkan Hubungan kami yang in relationship dif b pun telah di rubah olehnya. Ia mengganti statusnya menjadi single dan Agnez sekali lagi me like nya.
Aku tak tahan lagi, aku block Radit dari akun FB ku dan menghapus nomornya serta foto foto kenangan kami bersama. Aku menceritakan hal ini kepada sahabat sahabatku. Sahabatku hanya tersenyum padaku. Mereka yang memberikan support bahwa Radit bukanlah orang yang terbaik bagiku.
Aku mulai meyakinkan diriku, bahwa banyak pria yang lebih baik dari dirinya. Aku mungkin butuh waktu untuk tidak berhubungan dengan siapapun saat ini. Aku masih sungguh sangat menyayangi Radit. Aku berusaha tegar. Aku berusaha berbahagia untuk Radit yang tengah berbahagia disana.
Aku Ara, aku perempuan yang kuat, Aku percaya bahwa Tuhan mempertemukanku dengan orang yang salah sebelum aku dipertemukan dengan orang yang tepat. Ketika cinta itu setia, tak selamanya akan mendapatkan yang setia. Kegagalanku dengan Radit bukan menjadi penghalang untuk memulai lagi bersama seseorang diluar sana yang mampu menerimaku apa adanya. Aku sadar, aku mungkin tidak lebih cantik atau lebih kaya dari seorang Agnez. Radit bukan orang yang beruntung, kesetiaan yang kumiliki ternyata bukan untuknya.
Tapi untuk seseorang di luar sana yang telah Tuhan sediakan bagiku. Aku tak tahu siapa, dimana, dan bagaimana bertemu dengan orang itu. Tuhan akan menjadikan semua indah pada waktunya. Bukan dengan Radit tapi dengan seseorang yang aku pun tak tahu siapa.
Aku disini menanti seseorang itu…
Semoga ia akan memberikan ku kesetiaan, yang kelak akan kuberikan juga padanya….
Terimakasih untuk sahabat sahabatku yang telah memberikan support kepadaku. Aku sayang kalian, maaf kalau selama ini aku tak mau mendengar apa kata kalian. Aku sayaaang kalian, tak perduli berapa banyak aku kehilangan Radit Radit yang lain. Asal aku tak kehilangan kalian. …
Love yaa all friend   

*seminggu kemudian temanku mengabari bahwa Radit telah berpacaran dengan Agnez*

2 thoughts on “Ketika Cinta itu Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s